Jakarta, 7 September 2026 – Perwasitan Indonesia mencatat pencapaian penting setelah Naufal Adya Fairuski berhasil masuk jajaran AFC Elite Referee pada usia 26 tahun. Status tersebut membuat Naufal memenuhi kualifikasi untuk mendapatkan penugasan pada pertandingan resmi tingkat Asia dan membuka jalur menuju kompetisi internasional yang lebih tinggi. Pencapaiannya diumumkan Komite Wasit PSSI setelah Naufal menyelesaikan program AFC Referees Academy Batch 5 yang berlangsung selama tiga tahun pada periode 2023-2026. Dari sekitar 50 wasit yang mengikuti program tersebut, hanya delapan peserta yang akhirnya dinyatakan lulus sebagai wasit elite AFC. Naufal menjadi salah satu peserta yang mampu melewati seluruh tahapan pendidikan dan evaluasi tersebut. Keberhasilan ini sekaligus membuat Indonesia kini memiliki tiga wasit yang berada dalam jajaran elite AFC secara bersamaan.
Ketua Komite Wasit PSSI Yoshimi Ogawa menjelaskan pencapaian Naufal dalam kegiatan Refereeing Workshop for Media di Jakarta. Menurutnya, menjadi wasit FIFA saja belum cukup bagi seorang pengadil pertandingan untuk memperoleh penugasan pada berbagai kompetisi tingkat tinggi di bawah AFC. Seorang wasit harus melewati proses pendidikan dan evaluasi tambahan melalui akademi wasit konfederasi Asia. Naufal mengikuti program tersebut sejak 2023 dan menjalani berbagai tahapan selama tiga tahun hingga akhirnya memenuhi standar yang ditetapkan. Proses penilaian tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan ketika pertandingan berlangsung. Kebugaran fisik, pemahaman Laws of the Game, kemampuan berkomunikasi, penggunaan teknologi pertandingan, dan konsistensi performa juga menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju level elite.
Keberhasilan Naufal semakin berarti karena persaingan dalam AFC Referees Academy Batch 5 berlangsung ketat. Sekitar 50 wasit mengikuti program tersebut, sementara hanya delapan yang akhirnya berhasil mendapatkan status AFC Elite Referee. Seleksi selama beberapa tahun membuat setiap peserta harus menunjukkan perkembangan secara konsisten dan bukan hanya tampil baik dalam satu atau dua pertandingan. Naufal mampu menyelesaikan rangkaian program tersebut hingga mendapatkan pengakuan pada level tertinggi perwasitan Asia. Status baru itu membuatnya dapat mulai memperoleh kesempatan memimpin pertandingan dalam kompetisi resmi AFC maupun FIFA sesuai penugasan yang diberikan. Namun, status elite bukan berarti dirinya langsung ditunjuk untuk pertandingan terbesar. Masih terdapat beberapa jenjang yang harus dilewati sebelum Naufal dapat berada pada level tertinggi sepak bola internasional.
Naufal menjadi wasit Indonesia ketiga yang masuk jajaran elite AFC setelah Thoriq Munir Alkatiri dan Yudi Nurcahya. Kehadiran ketiganya secara bersamaan menjadi catatan tersendiri bagi perkembangan perwasitan nasional. Menurut Ogawa, untuk pertama kalinya Indonesia mempunyai tiga AFC Elite Referee dalam periode yang sama. Thoriq dan Yudi sebelumnya telah mendapatkan pengalaman memimpin berbagai pertandingan internasional, termasuk kompetisi tingkat Asia. Pengalaman kedua seniornya dapat menjadi referensi bagi Naufal ketika mulai menghadapi pertandingan dengan intensitas dan tekanan lebih tinggi. Semakin banyak wasit Indonesia mendapatkan kesempatan internasional juga memberikan ruang lebih besar bagi peningkatan standar perwasitan nasional.
Salah satu jenjang penting yang dapat ditempuh Naufal berikutnya adalah mendapatkan kepercayaan memimpin pertandingan AFC Champions League Elite. Kompetisi tersebut merupakan level tertinggi antarklub di Asia dan menghadirkan pemain serta klub-klub terbaik dari berbagai negara. Menurut Ogawa, performa seorang wasit ketika menangani pertandingan pada level seperti itu menjadi bagian penting dalam evaluasi untuk menuju tahapan selanjutnya. Naufal harus menunjukkan kualitas pengambilan keputusan, konsistensi, kebugaran, komunikasi dengan pemain, serta kemampuan mengendalikan pertandingan. Tekanan dalam kompetisi internasional juga berbeda karena setiap keputusan dapat mendapatkan perhatian luas. Karena itu, pengalaman secara bertahap diperlukan sebelum seorang wasit dapat dipertimbangkan untuk mendapatkan penugasan pada turnamen yang lebih besar.
Peluang menuju Piala Dunia juga mulai terbuka, tetapi tidak berarti Naufal otomatis menjadi kandidat untuk edisi terdekat. Ogawa memperkirakan proses menuju level tersebut masih membutuhkan sekitar tiga hingga lima tahun, bergantung pada perkembangan dan performa Naufal. Ia terlebih dahulu harus mendapatkan penugasan pada kompetisi AFC dari berbagai tingkatan dan menunjukkan penampilan yang konsisten. Jika berhasil memimpin pertandingan AFC Champions League Elite dengan baik, peluangnya untuk masuk radar penugasan FIFA pada level yang lebih tinggi akan semakin besar. Setiap pertandingan dengan demikian menjadi bagian dari proses evaluasi panjang. Kesalahan, kemampuan mengelola tekanan, konsistensi keputusan, dan kondisi fisik akan menjadi faktor yang ikut menentukan perkembangan kariernya.
Usia Naufal yang masih 26 tahun memberikan keuntungan dalam proses tersebut karena dirinya mempunyai waktu relatif panjang untuk membangun pengalaman internasional. Karier wasit berbeda dengan pemain karena pengadil pertandingan dapat mencapai level tertinggi setelah memperoleh pengalaman selama bertahun-tahun. Kemampuan membaca permainan biasanya berkembang seiring bertambahnya jumlah pertandingan yang dipimpin. Pada saat yang sama, standar kebugaran tetap harus dijaga karena wasit dituntut mengikuti tempo permainan sepak bola modern yang semakin cepat. Penguasaan teknologi seperti Video Assistant Referee juga menjadi bagian penting dari tuntutan pertandingan modern. Kombinasi pengalaman, kebugaran, pemahaman regulasi, dan kemampuan menggunakan teknologi menjadi modal yang perlu terus dikembangkan Naufal.
PSSI berharap keberhasilan Naufal juga memberikan efek positif terhadap pembinaan wasit Indonesia secara keseluruhan. Kehadiran tiga wasit elite AFC menunjukkan bahwa jalur menuju tingkat internasional dapat ditembus apabila proses pembinaan dilakukan secara konsisten. Wasit muda dari berbagai daerah diharapkan melihat pencapaian tersebut sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas sejak level kompetisi lokal. Pembinaan tidak hanya berkaitan dengan pemahaman aturan pertandingan, tetapi juga kondisi fisik, kemampuan komunikasi, integritas, serta kesiapan menghadapi tekanan. Standar internasional menuntut seorang wasit membuat keputusan dalam waktu sangat singkat dengan tingkat akurasi tinggi. Karena itu, peningkatan kualitas kompetisi domestik juga menjadi bagian penting dalam menyediakan pengalaman bagi calon wasit internasional.
Ogawa meminta lingkungan sepak bola nasional memberikan dukungan terhadap perkembangan Naufal maupun wasit Indonesia lainnya. Evaluasi tetap diperlukan ketika terjadi kesalahan, tetapi proses pengembangan seorang wasit membutuhkan kesempatan memimpin pertandingan dengan tingkat kesulitan yang semakin tinggi. Pengalaman tersebut tidak dapat diperoleh hanya melalui pendidikan teori maupun simulasi. Penugasan dalam pertandingan kompetitif menjadi bagian penting untuk membentuk ketenangan dan kemampuan mengambil keputusan. Bagi Naufal, setiap kesempatan di kompetisi AFC nantinya akan menjadi ujian untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu memenuhi standar yang telah diberikan melalui status elite tersebut. Konsistensi dalam beberapa tahun mendatang akan menentukan sejauh mana perjalanan internasionalnya berkembang.
Pencapaian Naufal Adya Fairuski akhirnya menjadi perkembangan positif bagi perwasitan Indonesia sekaligus membuka kemungkinan hadirnya pengadil asal Tanah Air di panggung sepak bola dunia pada masa mendatang. Namun, perjalanan menuju Piala Dunia masih panjang dan harus dilewati secara bertahap melalui penugasan resmi AFC maupun FIFA. AFC Champions League Elite akan menjadi salah satu panggung penting untuk membuktikan kemampuannya menghadapi pertandingan dengan tekanan tinggi. Jika mampu mempertahankan performa dan terus meningkat selama tiga hingga lima tahun mendatang, peluang untuk masuk dalam kandidat wasit Piala Dunia dapat semakin terbuka. Keberadaan Naufal bersama Thoriq Munir Alkatiri dan Yudi Nurcahya juga menandai perkembangan representasi Indonesia dalam jajaran elite perwasitan Asia. Tantangan berikutnya adalah memastikan pencapaian tersebut berkembang menjadi prestasi berkelanjutan hingga level sepak bola dunia.