Jakarta, 11 September 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan dirinya tidak menyesali keputusan membawa negaranya terlibat perang dengan Iran, meskipun konflik tersebut mulai memberikan tekanan politik menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November 2026. Dalam wawancara dengan pembawa acara Fox News Laura Ingraham, Trump menyatakan apabila kembali menghadapi situasi yang sama, dirinya akan mengambil keputusan serupa. Pernyataan tersebut menunjukkan Trump tetap mempertahankan kebijakan militernya terhadap Teheran meskipun perang telah berlangsung selama lebih dari enam bulan. Ia menempatkan upaya mencegah Iran memperoleh senjata nuklir sebagai salah satu alasan utama mempertahankan operasi militer. Trump juga membantah anggapan bahwa pendukungnya mulai kehilangan semangat akibat konflik yang berkepanjangan. Menurutnya, para pendukung justru bangga karena pemerintahannya mengambil sikap keras terhadap program nuklir Iran.
Trump menyampaikan pandangannya ketika ditanya apakah dirinya memiliki penyesalan mengingat perang dengan Iran berpotensi memberikan dampak terhadap hasil pemilu paruh waktu. Ia mengatakan tidak terlalu mempercayai konsep penyesalan, meskipun mengakui seseorang dapat mempertanyakan kembali keputusan yang telah dibuat. Trump kemudian menegaskan akan melakukan hal yang sama apabila memiliki kesempatan untuk mengulang keputusan tersebut. Sikap itu sekaligus menjadi jawaban terhadap meningkatnya kritik mengenai biaya politik dan ekonomi yang harus ditanggung Amerika Serikat. Konflik telah menjadi salah satu isu utama yang digunakan lawan politik untuk mempertanyakan kebijakan luar negeri pemerintah. Namun, Trump memilih menjadikan keputusan menghadapi Iran sebagai bagian dari argumentasi politiknya menjelang pemilu.
Konflik besar tersebut dimulai pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan terhadap Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat. Pertempuran selanjutnya berkembang menjadi konflik berkepanjangan dengan serangan yang terjadi secara berkala di berbagai wilayah. Ribuan orang dilaporkan tewas akibat rangkaian serangan, sementara jutaan lainnya harus meninggalkan tempat tinggal akibat situasi keamanan yang memburuk. Amerika Serikat menggunakan kekuatan udara dan laut dalam sebagian besar operasinya dan sejauh ini tidak mengerahkan pasukan darat dalam skala besar. Kondisi tersebut tidak menghilangkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berubah menjadi perang jangka panjang tanpa jalur penyelesaian yang jelas.
Trump berulang kali menyatakan salah satu tujuan utama operasi adalah melemahkan kemampuan nuklir Iran. Pemerintahannya menilai Teheran tidak boleh memiliki kesempatan mengembangkan senjata nuklir yang dapat mengubah keseimbangan keamanan di Timur Tengah. Iran membantah memiliki senjata nuklir dan selama ini menyatakan program pengayaan uraniumnya ditujukan untuk kepentingan damai. Perbedaan pandangan mengenai persoalan tersebut menjadi salah satu sumber utama ketegangan antara Washington dan Teheran. Upaya diplomasi yang sempat dilakukan juga belum menghasilkan kesepakatan yang mampu menghentikan pertempuran. Ketidakpastian tersebut membuat operasi militer dan tekanan ekonomi terus menjadi instrumen utama Washington terhadap Iran.
Dampak perang kini semakin terasa terhadap perekonomian Amerika Serikat dan pasar energi global. Gangguan terhadap jalur perdagangan minyak di kawasan Teluk telah mendorong kenaikan harga minyak dan bahan bakar. Kondisi tersebut menjadi persoalan politik bagi Partai Republik karena masyarakat Amerika menghadapi biaya energi yang lebih tinggi menjelang pemilu paruh waktu. Pemerintahan Trump berusaha menunjukkan bahwa tekanan terhadap Iran merupakan harga yang harus dibayar untuk mencapai tujuan keamanan yang lebih besar. Namun, kelompok yang menentang perang mempertanyakan apakah manfaat strategis yang diperoleh sebanding dengan biaya ekonomi dan militer. Perdebatan tersebut diperkirakan semakin kuat ketika kampanye pemilu memasuki tahap akhir.
Trump juga menolak anggapan bahwa basis pendukungnya mengalami demoralisasi akibat perang. Sebagian pendukung gerakan politiknya sebelumnya dikenal memiliki pandangan skeptis terhadap keterlibatan Amerika Serikat dalam perang berkepanjangan di luar negeri. Trump sendiri ketika berkampanye pernah menonjolkan pendekatan yang menjanjikan penghentian konflik asing dan menghindari keterlibatan militer baru. Perang Iran karena itu menciptakan perdebatan mengenai konsistensi antara janji politik tersebut dan kebijakan yang diterapkan setelah konflik pecah. Trump berpendapat pendukungnya memahami alasan pemerintah mengambil tindakan terhadap Iran. Ia menempatkan pencegahan senjata nuklir sebagai pembenaran utama atas keputusan tersebut.
Perhatian juga tertuju pada pernyataan Trump mengenai kemungkinan berakhirnya perang setelah pemilu paruh waktu. Trump kembali memperkirakan konflik akan selesai segera setelah pemungutan suara berlangsung. Ia bahkan menuding Iran berusaha memengaruhi situasi politik Amerika Serikat karena Teheran dinilai menginginkan perubahan kekuatan di Washington. Menurut Trump, Iran berharap Partai Demokrat memperoleh posisi lebih kuat dan kemudian menerapkan pendekatan yang lebih lunak terhadap program nuklirnya. Tuduhan tersebut menambah dimensi politik domestik dalam konflik yang sebelumnya lebih banyak dipandang melalui perspektif keamanan regional. Belum terdapat kepastian mengenai dasar perkiraan bahwa perang dapat berakhir segera setelah pemilu.
Di sisi lain, operasi militer masih berlangsung dan menunjukkan bahwa penyelesaian konflik belum berada di depan mata. Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir tetap melakukan tindakan terhadap kepentingan Iran setelah pasukan dan kapal militernya menjadi sasaran serangan. Washington juga mempertahankan kekuatan militer dalam jumlah besar di kawasan Teluk untuk menjaga jalur pelayaran strategis. Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling penting karena merupakan jalur utama perdagangan energi dunia. Gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut dapat memberikan dampak terhadap harga minyak dan rantai pasok global. Kondisi ini membuat perang Iran tidak hanya menjadi persoalan bilateral antara Washington dan Teheran, tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap negara lain.
Pemerintahan Trump pada saat yang sama melanjutkan tekanan ekonomi terhadap Iran melalui berbagai sanksi. Sektor minyak, pelayaran, keuangan, pengadaan senjata, aset digital, dan penerbangan menjadi sasaran pembatasan yang diperluas sejak konflik berlangsung. Washington berharap kombinasi tekanan militer dan ekonomi dapat mempersempit kemampuan Teheran mempertahankan operasi sekaligus mendorong perubahan sikap mengenai program nuklir. Namun, Iran sejauh ini tetap menunjukkan penolakan terhadap tuntutan Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat pertanyaan mengenai strategi keluar dari perang semakin sering muncul. Pemerintah Trump menghadapi tantangan untuk menunjukkan bahwa operasi memiliki tujuan akhir yang dapat dicapai tanpa membawa Amerika Serikat ke konflik terbuka dalam jangka panjang.
Pernyataan Trump bahwa dirinya tidak menyesali perang dengan Iran memperlihatkan bahwa Gedung Putih belum menunjukkan tanda akan menarik kembali kebijakan militernya meskipun tekanan politik meningkat. Trump bahkan menegaskan akan mengambil keputusan yang sama apabila kembali menghadapi situasi serupa. Sikap tersebut membuat perang Iran berpotensi menjadi salah satu isu paling menentukan dalam pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November mendatang. Kenaikan harga energi, biaya operasi militer, korban jiwa, serta ketidakjelasan mengenai waktu berakhirnya konflik akan terus menjadi bahan perdebatan politik. Sementara itu, Washington dan Teheran masih mempertahankan posisi masing-masing sehingga jalan menuju penyelesaian belum terlihat jelas. Perkembangan dalam beberapa pekan mendatang akan menentukan apakah perkiraan Trump mengenai berakhirnya perang setelah pemilu dapat terwujud atau konflik justru memasuki fase yang lebih panjang.