Nduga, 22 September 2026 – Kontak senjata terjadi antara personel Komando Operasi TNI Habema dan kelompok TPNPB-OPM Kodap III Ndugama Derakma di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Senin, 21 September 2026. Menurut keterangan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III Letjen TNI Lucky Avianto, bentrokan terjadi ketika pasukan bergerak masuk ke kawasan hutan untuk mencari kelompok yang dipimpin Egianus Kogoya. Pihak TNI menyatakan kelompok bersenjata tersebut lebih dahulu melepaskan tembakan ke arah personel yang sedang menjalankan operasi. Pasukan kemudian membalas dan berhasil mendorong kelompok tersebut menjauh dari permukiman serta pusat aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Tidak ada korban jiwa maupun luka dari pihak TNI dalam kontak senjata tersebut.
Operasi dilakukan sebagai bagian dari pengejaran terhadap anggota TPNPB-OPM Kodap III Ndugama Derakma. Lucky mengatakan pasukan bergerak lebih jauh ke kawasan hutan untuk mencari dan menangkap anggota kelompok tersebut. Ketika penyisiran berlangsung, personel TNI mendapat tembakan sehingga terjadi kontak senjata. Pihak TNI menyatakan seluruh personelnya berhasil melewati bentrokan tanpa korban. Kelompok bersenjata kemudian bergerak semakin jauh dari kawasan yang dihuni masyarakat. Operasi keamanan tetap dilanjutkan setelah kontak senjata berakhir.
Menurut keterangan TNI, kawasan hutan di Nduga kerap digunakan kelompok bersenjata sebagai tempat bergerak dan bersembunyi. Kondisi geografis yang didominasi pegunungan dan hutan membuat operasi pencarian menghadapi medan yang tidak mudah. Pasukan harus bergerak dengan mempertimbangkan keamanan personel sekaligus keberadaan masyarakat di sekitar lokasi operasi. TNI menyebut salah satu prioritasnya adalah mendorong kelompok bersenjata menjauh dari permukiman. Dengan demikian, potensi kontak senjata di dekat pusat aktivitas warga diharapkan dapat dikurangi. TNI juga menyatakan operasi akan terus diarahkan pada kelompok yang menjadi sasaran pengejaran.
Lucky mengatakan soliditas antara TNI dan Polri menjadi bagian penting dalam operasi keamanan di Papua Pegunungan. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur keamanan lainnya juga disebut terus dilakukan. Dukungan masyarakat dinilai diperlukan terutama untuk menjaga keamanan wilayah dan mencegah warga terjebak dalam kontak bersenjata. TNI menyatakan operasi tidak ditujukan kepada masyarakat sipil, melainkan kepada anggota kelompok bersenjata yang menjadi sasaran penegakan hukum dan operasi keamanan. Setiap perkembangan di lapangan juga akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan pola operasi berikutnya. Fokus utama tetap diarahkan pada keamanan masyarakat di sekitar wilayah rawan.
Dalam operasi tersebut, TNI menyatakan personelnya tetap diwajibkan mengikuti aturan pelibatan atau Rules of Engagement (ROE). Ketentuan itu menjadi pedoman bagi prajurit ketika menghadapi situasi bersenjata di lapangan. Lucky menegaskan tindakan yang dilakukan personel harus berdasarkan undang-undang dan peraturan yang berlaku. Profesionalitas serta penghormatan terhadap hukum dan hak asasi manusia juga disebut sebagai bagian dari ketentuan operasi. Penerapan aturan tersebut menjadi penting mengingat operasi berlangsung di wilayah yang juga dihuni masyarakat sipil. Keselamatan warga disebut menjadi salah satu pertimbangan dalam setiap tindakan pasukan.
Kontak senjata terbaru kembali menunjukkan situasi keamanan di Nduga masih membutuhkan perhatian. Wilayah tersebut selama bertahun-tahun menjadi salah satu daerah dengan aktivitas kelompok bersenjata di Papua Pegunungan. Kelompok Kodap III Ndugama Derakma yang dipimpin Egianus Kogoya menjadi salah satu sasaran utama operasi keamanan. TNI terus melakukan pencarian terhadap anggota kelompok tersebut di kawasan hutan dan pegunungan. Namun, luasnya wilayah serta medan yang sulit membuat proses pengejaran membutuhkan waktu. Aparat juga harus mempertimbangkan keberadaan masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan operasi.
TNI menyatakan tindakan tegas dan terukur dapat dilakukan ketika personel menghadapi ancaman langsung. Pada saat yang sama, setiap tindakan harus tetap berada dalam kerangka aturan pelibatan yang telah ditetapkan. Pendekatan tersebut disebut diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara pelaksanaan operasi dan perlindungan terhadap masyarakat. Pasukan juga berupaya menjaga agar kelompok bersenjata tidak kembali mendekati pusat permukiman maupun kegiatan ekonomi. Setelah kontak senjata terbaru, situasi keamanan di sekitar lokasi terus dipantau. Belum terdapat laporan mengenai korban warga sipil dalam peristiwa tersebut.
Selain melanjutkan operasi, Pangkogabwilhan III mengimbau anggota TPNPB-OPM untuk menghentikan perlawanan bersenjata dan menyerahkan diri. Mereka diminta meletakkan senjata serta mendatangi pos TNI maupun kantor kepolisian terdekat. TNI menyatakan jalur penyerahan diri tetap terbuka bagi anggota kelompok yang ingin kembali ke masyarakat. Imbauan tersebut disampaikan bersamaan dengan penegasan bahwa pengejaran terhadap kelompok bersenjata akan dilanjutkan. Aparat keamanan juga meminta masyarakat tidak mendekati kawasan yang sedang menjadi lokasi operasi. Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko warga terdampak apabila kembali terjadi kontak senjata.
Operasi di Nduga diperkirakan masih berlanjut dengan menyesuaikan perkembangan keamanan di lapangan. Personel Koops Habema akan melakukan pemantauan dan penyisiran terhadap kawasan yang diduga menjadi jalur pergerakan kelompok bersenjata. Koordinasi TNI-Polri juga menjadi bagian dari upaya menjaga permukiman dan pusat aktivitas masyarakat. Belum ada informasi terverifikasi mengenai korban dari pihak TPNPB-OPM dalam kontak senjata terbaru tersebut. Informasi yang tersedia sejauh ini terutama berasal dari keterangan pihak TNI, sehingga perkembangan lain masih dapat muncul. Situasi di wilayah operasi juga dapat berubah seiring berjalannya pengejaran.
Setelah bentrokan tersebut, TNI menyatakan kelompok bersenjata berhasil didorong semakin jauh dari permukiman warga di Nduga. Seluruh personel TNI yang terlibat dilaporkan selamat tanpa korban jiwa maupun luka. Operasi pencarian terhadap kelompok pimpinan Egianus Kogoya tetap dilanjutkan dengan memperhatikan aturan pelibatan dan keselamatan masyarakat. Aparat juga terus memantau kemungkinan pergerakan kelompok kembali menuju kawasan yang dihuni warga. Pemerintah daerah dan aparat keamanan diharapkan dapat menjaga aktivitas masyarakat tetap berjalan di wilayah yang dinilai aman. Perkembangan keamanan berikutnya akan bergantung pada situasi lapangan serta hasil operasi lanjutan yang dilakukan TNI dan Polri.