Jakarta, 7 November 2026 – Kecintaan berlebihan terhadap kehidupan dunia dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk keinginan menguasai jabatan dan memperoleh kedudukan tinggi di tengah masyarakat. Dalam ajaran Islam, sikap tamak terhadap kedudukan dan rakus terhadap kepemimpinan menjadi salah satu perilaku yang perlu diwaspadai. Keinginan mendapatkan kekuasaan tanpa mempertimbangkan tanggung jawab dapat mendorong seseorang mengabaikan nilai kejujuran dan amanah. Karena itu, umat Islam diingatkan untuk menempatkan jabatan sebagai sarana menjalankan tanggung jawab, bukan sekadar alat memperoleh kehormatan pribadi.
Islam tidak melarang seseorang menjadi pemimpin atau menduduki jabatan penting selama memiliki kemampuan dan niat yang benar. Namun, ambisi yang berlebihan dapat menjadi persoalan ketika kedudukan dijadikan tujuan utama kehidupan. Seseorang yang terlalu mengejar jabatan berisiko menghalalkan berbagai cara untuk memperoleh kekuasaan. Sikap tersebut dapat memunculkan persaingan tidak sehat, kesombongan, serta keinginan mempertahankan kedudukan dengan mengabaikan kepentingan orang lain. Dalam pandangan Islam, kualitas kepemimpinan lebih ditentukan oleh amanah dan keadilan daripada tingginya posisi seseorang.
Rasulullah SAW memberikan peringatan mengenai bahaya ambisi terhadap harta dan kedudukan. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, beliau menggambarkan bahwa dua serigala lapar yang dilepaskan di tengah kawanan kambing tidak lebih merusak daripada ketamakan seseorang terhadap harta dan kehormatan bagi agamanya. Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa ambisi duniawi yang tidak terkendali dapat membawa dampak besar terhadap kehidupan spiritual. Keinginan mendapatkan pengakuan dan kekuasaan dapat membuat seseorang melupakan kewajiban kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, pengendalian diri menjadi bagian penting dalam menjaga keimanan.
Peringatan mengenai kepemimpinan juga disampaikan Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah menjelaskan bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang dapat menjadi sumber penyesalan pada hari kiamat bagi orang yang tidak menjalankannya dengan benar. Pesan tersebut menegaskan bahwa jabatan bukan hanya kehormatan, melainkan tanggung jawab besar yang harus dipertanggungjawabkan. Seorang pemimpin dituntut berlaku adil, menjaga hak masyarakat, dan menghindari penyalahgunaan kewenangan. Semakin besar kekuasaan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipenuhi.
Salah satu ciri cinta dunia berlebihan adalah munculnya rasa tidak pernah puas terhadap kedudukan yang telah diperoleh. Ketika seseorang mendapatkan jabatan tertentu, ia terus menginginkan posisi yang lebih tinggi tanpa mempertimbangkan manfaat dan tanggung jawabnya. Keadaan tersebut dapat disertai keinginan memperoleh pujian, penghormatan, dan pengaruh dari orang lain. Apabila tidak dikendalikan, ambisi seperti ini berpotensi menumbuhkan sifat iri, persaingan yang merugikan, serta kesulitan menerima keberhasilan orang lain. Islam mengajarkan pentingnya sikap qanaah atau merasa cukup sebagai salah satu cara menjaga keseimbangan kehidupan.
Untuk menghindari ketamakan terhadap kekuasaan, umat Islam dianjurkan memperbaiki niat dalam setiap aktivitas. Jabatan seharusnya dipandang sebagai kesempatan memberikan manfaat dan menjalankan pelayanan kepada masyarakat. Sikap rendah hati, kejujuran, serta kesediaan menerima kritik menjadi bagian penting dalam membangun kepemimpinan yang bertanggung jawab. Selain itu, seseorang perlu memahami bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur melalui kekayaan, popularitas, atau kedudukan sosial. Nilai ketakwaan dan kualitas amal tetap menjadi ukuran utama dalam kehidupan seorang Muslim.
Peringatan mengenai bahaya cinta dunia menjadi pengingat agar manusia tidak menjadikan jabatan dan kekuasaan sebagai tujuan tertinggi. Islam mendorong umatnya bekerja keras dan berkontribusi dalam kehidupan sosial, tetapi tetap menjaga keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat. Kepemimpinan yang dijalankan dengan amanah dapat menjadi jalan kebaikan, sedangkan kekuasaan yang dikejar karena kesombongan berpotensi membawa kerugian. Dengan memperkuat keikhlasan, rasa tanggung jawab, dan pengendalian diri, seseorang diharapkan mampu menghindari sifat tamak terhadap kedudukan. Pada akhirnya, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jabatan yang dimiliki, melainkan oleh ketakwaan dan manfaat yang diberikan kepada sesama.