Jakarta, 3 September 2026 – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga produksi pangan nasional di tengah dampak fenomena El Nino. Pemerintah mengandalkan pompanisasi, penguatan jaringan irigasi, peningkatan produktivitas lahan, serta penggunaan benih yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap kekeringan. Strategi tersebut disebut telah dipersiapkan jauh sebelum dampak El Nino semakin terasa di sejumlah daerah. Langkah antisipasi diperlukan karena berkurangnya curah hujan dapat mengganggu ketersediaan air bagi tanaman dan meningkatkan risiko kekeringan pada lahan pertanian. Pemerintah tidak ingin kondisi tersebut berkembang menjadi gagal panen yang kemudian mengganggu pasokan pangan nasional. Karena itu, penanganan difokuskan sejak dari tingkat produksi dengan memastikan petani tetap mendapatkan dukungan air dan sarana produksi yang dibutuhkan.
Amran menjelaskan pompanisasi menjadi salah satu instrumen utama untuk membantu lahan pertanian yang mengalami kekurangan pasokan air. Pompa dapat dimanfaatkan untuk mengambil air dari sungai, embung, maupun sumber lain yang masih tersedia untuk dialirkan menuju area persawahan. Langkah tersebut terutama diarahkan ke wilayah yang memiliki sumber air tetapi tidak dapat menjangkaunya melalui sistem irigasi konvensional. Selain pompanisasi, pemerintah terus melakukan perbaikan dan optimalisasi jaringan irigasi agar distribusi air menjadi lebih efektif. Pengelolaan air menjadi semakin penting ketika curah hujan menurun karena setiap sumber yang tersedia harus digunakan secara efisien. Pemerintah juga mendorong koordinasi antara petani dan pengelola sumber daya air agar pembagian pasokan dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan di lapangan.
Strategi berikutnya diarahkan pada peningkatan produktivitas tanaman sehingga hasil panen tetap tinggi meskipun terdapat ancaman penurunan luas atau intensitas tanam akibat kekeringan. Amran mencontohkan penerapan pertanian modern yang mampu meningkatkan produktivitas dari sekitar lima ton menjadi 10 ton per hektare, bahkan dari enam ton menjadi sekitar 11 ton pada lokasi tertentu. Peningkatan tersebut menjadi salah satu cara untuk menjaga total produksi ketika kondisi iklim memberikan tekanan terhadap sektor pertanian. Pemerintah mendorong penggunaan teknologi, mekanisasi, pemupukan yang tepat, dan pengelolaan budidaya secara lebih efisien. Produktivitas yang lebih tinggi juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani apabila biaya produksi tetap dapat dikendalikan. Dengan pendekatan tersebut, ancaman El Nino tidak hanya dihadapi melalui penambahan pasokan air, tetapi juga melalui peningkatan kemampuan lahan menghasilkan pangan.
Penggunaan varietas benih tahan kekeringan turut menjadi bagian penting dari mitigasi. Benih dengan kemampuan adaptasi lebih baik terhadap keterbatasan air dapat membantu menekan risiko penurunan produksi ketika musim kemarau berlangsung lebih kering. Pemilihan varietas juga perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah karena kondisi tanah, sumber air, dan intensitas kekeringan berbeda di setiap daerah. Pemerintah melalui jajaran pertanian daerah diharapkan dapat membantu petani menentukan varietas yang sesuai dengan kondisi setempat. Selain itu, waktu tanam harus disesuaikan dengan prakiraan iklim agar fase pertumbuhan tanaman tidak bertepatan dengan periode ketika ketersediaan air berada pada titik paling rendah. Kombinasi benih adaptif dan kalender tanam yang tepat diharapkan mampu mempertahankan produktivitas selama El Nino.
Kementerian Pertanian sebenarnya telah memperkuat mitigasi sejak beberapa bulan sebelumnya. Strategi yang disiapkan mencakup pemetaan wilayah rawan kekeringan, penguatan sistem peringatan dini, optimalisasi sumber air, pompanisasi, rehabilitasi jaringan irigasi, hingga pemanfaatan embung. Daerah yang mulai menunjukkan tanda kekurangan air diminta segera mengambil tindakan tanpa menunggu kondisi tanaman memburuk. Pendekatan tersebut diterapkan karena penanganan kekeringan akan semakin sulit apabila tanaman sudah mengalami kerusakan berat. Pemerintah daerah, penyuluh, kelompok tani, dan berbagai instansi terkait juga diminta meningkatkan koordinasi untuk memastikan persoalan air dapat diketahui lebih cepat. Setiap laporan mengenai potensi gagal panen diharapkan langsung ditindaklanjuti melalui intervensi yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Salah satu contoh penanganan dilakukan terhadap lebih dari seribu hektare sawah yang terdampak kekeringan di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pemerintah bersama berbagai pihak melakukan pengaturan pembagian air, optimalisasi pasokan dari wilayah hulu, penyesuaian jadwal tanam, serta percepatan penggunaan pompa. Patroli juga diperlukan untuk memastikan distribusi air berlangsung sesuai kesepakatan dan mencegah pengambilan yang dapat mengganggu pasokan ke wilayah lain. Untuk jangka panjang, pembangunan tampungan air dan normalisasi saluran irigasi turut dipertimbangkan sebagai bagian dari solusi. Penanganan semacam itu menunjukkan bahwa dampak El Nino dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Karena itu, kebijakan nasional perlu diterjemahkan menjadi langkah teknis yang menyesuaikan kondisi setiap sentra produksi.
Amran menyatakan pemerintah memiliki pengalaman menghadapi El Nino sehingga berbagai pola mitigasi telah dipelajari dari kejadian sebelumnya. Pengalaman tersebut digunakan untuk menentukan wilayah prioritas, memperkirakan kebutuhan pompa, dan menyiapkan infrastruktur sebelum kekeringan mencapai kondisi kritis. Pemerintah juga berusaha menjaga agar produksi tidak hanya bergantung pada kondisi curah hujan. Pemanfaatan sumber air alternatif dan peningkatan kapasitas irigasi menjadi bagian dari upaya membangun pertanian yang lebih tahan terhadap perubahan iklim. Tantangan tersebut diperkirakan akan semakin penting karena perubahan pola cuaca dapat membuat periode kekeringan maupun hujan ekstrem semakin sulit diprediksi. Adaptasi sektor pertanian pun menjadi kebutuhan jangka panjang, bukan sekadar respons terhadap El Nino pada tahun ini.
Dari sisi ketersediaan, pemerintah sebelumnya memastikan cadangan beras nasional berada dalam kondisi relatif kuat untuk menghadapi tekanan El Nino. Cadangan yang besar memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan apabila terjadi gangguan produksi di sejumlah wilayah. Meski demikian, keberadaan stok tidak membuat upaya meningkatkan produksi dihentikan. Produksi baru tetap dibutuhkan untuk mempertahankan keseimbangan pasokan dalam jangka panjang sekaligus menjaga cadangan pemerintah. Jika produksi menurun terlalu dalam, tekanan terhadap harga pangan dapat meningkat dan pada akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat. Karena itu, menjaga sawah tetap produktif selama kemarau menjadi salah satu prioritas utama.
Pemerintah kini akan terus memantau perkembangan kekeringan dan produksi di berbagai sentra pangan selama periode El Nino. Pompanisasi, irigasi, benih tahan kekeringan, pengaturan waktu tanam, serta peningkatan produktivitas menjadi kombinasi strategi yang digunakan untuk mempertahankan hasil pertanian. Amran optimistis langkah yang telah dipersiapkan dapat menekan dampak El Nino terhadap produksi pangan nasional. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada kecepatan penanganan di lapangan dan ketersediaan sumber air di setiap wilayah. Dengan mitigasi yang dilakukan sejak awal, pemerintah berharap kekeringan tidak berkembang menjadi gangguan besar terhadap produksi dan ketersediaan pangan. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi mempertahankan ketahanan pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.