Jakarta, 29 Juli 2026 – Politikus sekaligus mantan aktivis Ahmad Doli Kurnia menggagas reuni aktivis sebagai ruang untuk kembali mempertemukan berbagai tokoh yang pernah terlibat dalam gerakan sosial dan politik. Dalam momentum tersebut, Doli menyerukan agar setiap pihak tidak bersikap anti terhadap kritik, terutama ketika berada dalam posisi yang memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat. Kritik dinilai memiliki peranan penting untuk menjaga proses demokrasi tetap berjalan dan mencegah kekuasaan kehilangan mekanisme koreksi. Pertemuan antaraktivis juga dapat menjadi kesempatan untuk bertukar pandangan mengenai perkembangan kehidupan berbangsa setelah perjalanan reformasi selama puluhan tahun. Dialog terbuka diharapkan mampu mempertahankan tradisi kritis tanpa menghilangkan semangat mencari solusi bersama.
Gagasan reuni aktivis tidak hanya dimaksudkan sebagai pertemuan untuk mengenang perjalanan gerakan pada masa lalu. Para aktivis dari berbagai generasi kini telah menempuh jalur berbeda, mulai dari politik, pemerintahan, akademik, dunia profesional hingga organisasi masyarakat. Perbedaan posisi tersebut dapat menghasilkan sudut pandang yang semakin beragam terhadap persoalan nasional. Pertemuan kembali dapat menjadi ruang untuk membandingkan idealisme yang diperjuangkan sebelumnya dengan kondisi yang berkembang saat ini. Dari dialog tersebut, evaluasi terhadap perjalanan demokrasi dapat dilakukan secara lebih terbuka.
Seruan untuk tidak anti kritik menjadi bagian penting karena kritik merupakan salah satu mekanisme kontrol dalam kehidupan demokratis. Pejabat publik, politisi maupun lembaga negara menjalankan kewenangan yang berdampak langsung terhadap masyarakat sehingga kebijakan mereka perlu terbuka terhadap evaluasi. Kritik tidak selalu berarti penolakan terhadap seluruh kebijakan, melainkan dapat menunjukkan aspek yang perlu diperbaiki. Respons yang argumentatif dan berbasis data dapat membuat perbedaan pandangan menghasilkan diskusi yang lebih produktif. Sebaliknya, menutup ruang kritik berpotensi memperbesar jarak antara pengambil kebijakan dan masyarakat.
Doli juga mendorong agar tradisi aktivisme tetap memiliki keberanian menyampaikan pandangan meskipun sebagian tokohnya kini berada dalam struktur politik maupun pemerintahan. Perubahan posisi tidak seharusnya menghilangkan kemampuan untuk melakukan evaluasi terhadap kebijakan dan keadaan sosial. Pengalaman panjang aktivis dalam mengorganisasi masyarakat dan mengawal isu publik dapat menjadi modal untuk memberikan masukan yang lebih substantif. Pada saat yang sama, kritik juga perlu disertai tanggung jawab terhadap fakta dan dampak dari informasi yang disampaikan. Dengan pendekatan tersebut, budaya kritis dapat berjalan bersama upaya menjaga kualitas diskusi publik.
Reuni aktivis juga berpotensi mempertemukan tokoh dengan latar belakang politik yang berbeda. Setelah memasuki dunia politik, sejumlah aktivis berada di partai, lembaga, maupun kelompok dengan kepentingan yang tidak selalu sama. Forum informal dapat membuka komunikasi yang lebih cair dibandingkan perdebatan politik sehari-hari. Perbedaan pilihan tidak harus menghapus hubungan maupun sejarah perjuangan yang pernah mempertemukan mereka. Justru keberagaman pandangan dapat menjadi bahan untuk melihat persoalan nasional dari lebih banyak perspektif.
Generasi muda menjadi bagian penting dalam kesinambungan gerakan masyarakat sipil. Pengalaman aktivis terdahulu dapat menjadi pelajaran mengenai bagaimana perubahan politik terjadi, bagaimana kebebasan diperjuangkan, serta bagaimana demokrasi membutuhkan pengawasan setelah perubahan berhasil dicapai. Namun, generasi baru juga menghadapi tantangan berbeda, terutama karena ruang publik semakin dipengaruhi teknologi digital dan media sosial. Kritik kini dapat menyebar dalam hitungan menit dan memperoleh respons dari masyarakat dalam skala besar. Kondisi tersebut membuat kemampuan memeriksa informasi dan membangun argumentasi menjadi semakin penting.
Ruang kritik yang sehat juga membutuhkan kesiapan semua pihak menerima perbedaan tanpa menjadikannya permusuhan. Pemerintah dan politisi dapat menggunakan kritik sebagai bahan evaluasi, sementara masyarakat memiliki tanggung jawab menyampaikan pandangan berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Aktivis dapat berperan sebagai jembatan dengan membawa persoalan masyarakat ke ruang pengambilan keputusan sekaligus menjelaskan kebijakan kepada publik secara kritis. Hubungan tersebut dapat memperkuat mekanisme kontrol terhadap kekuasaan tanpa menghambat pemerintahan menjalankan tugasnya. Demokrasi pada akhirnya membutuhkan partisipasi sekaligus kemampuan berdialog.
Gagasan reuni aktivis yang disampaikan Doli Kurnia menjadi momentum untuk mengingat kembali pentingnya budaya kritis dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Seruan agar tidak anti kritik menegaskan bahwa perbedaan pandangan seharusnya dipandang sebagai bagian dari mekanisme koreksi, bukan ancaman terhadap kekuasaan. Pertemuan lintas generasi dan latar belakang dapat membuka ruang refleksi mengenai perubahan yang telah dicapai serta persoalan yang masih perlu diperbaiki. Aktivisme pun tidak harus berhenti ketika seseorang memasuki politik atau pemerintahan, selama keberanian melakukan evaluasi tetap dipertahankan. Dengan ruang dialog yang terbuka, reuni tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi pertemuan nostalgia, tetapi turut menghasilkan gagasan yang relevan bagi kehidupan demokrasi Indonesia.