Jakarta, 27 Agustus 2026 – Banyak warga Nusa Tenggara Timur (NTT) masih memilih bertahan di lokasi pengungsian setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan tingginya jumlah pengungsi tidak seluruhnya disebabkan kerusakan rumah, tetapi juga karena masyarakat masih takut terhadap gempa susulan.
Suharyanto menyampaikan kondisi tersebut saat melaporkan perkembangan penanganan gempa kepada Presiden Prabowo Subianto di Nagekeo, NTT, Rabu (26/8/2026). Berdasarkan data BNPB, jumlah warga yang masih mengungsi mencapai 179.037 orang.
Menurut Suharyanto, sebagian warga sebenarnya tidak mengalami kerusakan berat pada tempat tinggalnya. Namun, mereka belum berani kembali ke rumah karena masih merasakan guncangan susulan yang terjadi setelah gempa utama.
BNPB mencatat ribuan gempa susulan terjadi sejak gempa utama mengguncang Flores. Hingga 25 Agustus, tercatat 7.259 kejadian gempa susulan, dengan 142 di antaranya dirasakan oleh masyarakat. Aktivitas tersebut membuat sebagian warga merasa kondisi belum cukup aman untuk kembali menjalankan aktivitas di rumah.
Ketakutan warga juga diperparah oleh beredarnya informasi di media sosial. Suharyanto menyebut terdapat isu yang menyatakan bakal terjadi gempa susulan dengan kekuatan lebih besar, bahkan disertai tsunami.
Informasi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena dapat meningkatkan kecemasan masyarakat. BNPB bersama berbagai pihak terus memberikan penjelasan kepada warga agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk memperoleh informasi kebencanaan dari sumber resmi, terutama BNPB dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Warga juga diminta tetap waspada tanpa diliputi kepanikan berlebihan.
Rasa takut setelah mengalami gempa kuat memang menjadi hal yang wajar. BNPB sebelumnya juga menemukan sejumlah warga Flores memilih tinggal di tenda yang didirikan di sekitar rumah meskipun kondisi lingkungan mulai berangsur kondusif.
Di sisi lain, pemerintah terus memastikan kebutuhan para pengungsi tetap terpenuhi. Penanganan mencakup distribusi logistik, pelayanan kesehatan, penyediaan tempat pengungsian, serta pemulihan berbagai fasilitas yang rusak akibat gempa.
Gempa utama pada 15 Agustus tersebut berdampak pada sejumlah kabupaten di Flores. Berdasarkan laporan BNPB per 26 Agustus, bencana itu telah menyebabkan 105 orang meninggal dunia, 1.678 orang mengalami luka-luka, serta puluhan ribu rumah mengalami kerusakan.
Jumlah pengungsi yang tinggi juga menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya berupa kerusakan fisik. Trauma dan kekhawatiran terhadap kemungkinan guncangan berikutnya turut memengaruhi keputusan warga untuk meninggalkan rumah.
Pemerintah kini berupaya memulihkan rasa aman masyarakat melalui penyampaian informasi yang akurat dan pendampingan di lokasi pengungsian. Warga yang rumahnya masih aman secara struktur diharapkan dapat kembali setelah mendapatkan kepastian mengenai kondisi lingkungan dan bangunannya.
BNPB menegaskan masyarakat tidak perlu panik menghadapi gempa susulan, tetapi tetap harus mengikuti arahan petugas. Dengan informasi yang benar dan kewaspadaan yang tepat, warga diharapkan dapat menghadapi fase pemulihan pascagempa tanpa terpengaruh kabar bohong mengenai gempa besar maupun tsunami.