Suriah Panggil Duta Besar Yordania, Protes Serangan Udara yang Tewaskan Warga Sipil

Damaskus, 29 Oktober 2026 – Pemerintah Suriah menyampaikan protes resmi kepada Yordania setelah serangkaian serangan udara di wilayah selatan negara tersebut menewaskan sejumlah warga sipil, termasuk anak-anak. Kementerian Luar Negeri Suriah memanggil Duta Besar Yordania untuk Suriah, Sufyan Qudah, pada Rabu (28/10/2026) untuk menyerahkan nota protes diplomatik. Langkah tersebut diambil setelah pesawat tempur Yordania melancarkan operasi militer di Provinsi Daraa dan wilayah sekitarnya pada Senin (26/10/2026). Menurut laporan otoritas Suriah, sedikitnya tujuh warga sipil meninggal dunia dan tiga orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Pemerintah Damaskus menyatakan keberatan karena operasi militer dilakukan di wilayah kedaulatannya tanpa koordinasi terlebih dahulu. Insiden tersebut menimbulkan ketegangan diplomatik antara kedua negara yang selama ini memiliki kepentingan bersama dalam menjaga keamanan perbatasan.

ANTARA News

+1

Kementerian Luar Negeri Suriah menjelaskan bahwa pemanggilan Duta Besar Yordania merupakan bentuk keberatan resmi terhadap jatuhnya korban sipil dalam operasi militer tersebut. Nota diplomatik yang disampaikan menyoroti serangan terhadap sejumlah lokasi di Provinsi Daraa yang mengakibatkan korban jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak. Pemerintah Suriah menegaskan bahwa setiap operasi militer asing di wilayahnya harus menghormati kedaulatan serta integritas teritorial negara. Damaskus juga menilai komunikasi antarpemerintah menjadi unsur penting dalam mencegah tindakan militer yang berpotensi membahayakan masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikan melalui saluran resmi pemerintah setelah otoritas setempat melakukan pemeriksaan terhadap dampak serangan. Meski melayangkan protes, Suriah tetap membuka komunikasi diplomatik dengan Yordania untuk membahas penyelesaian persoalan tersebut.

الوكالة العربية السورية للأنباء – سانا

Serangan udara Yordania terjadi pada Senin malam ketika angkatan udaranya menggempur sejumlah lokasi di Suriah bagian selatan. Operasi tersebut menyasar kawasan yang menurut militer Yordania digunakan oleh kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan pelaku serangan di negaranya. Beberapa wilayah yang terdampak berada di sekitar Al-Tuff, Nasib, dan Muzayrib di Provinsi Daraa. Tim pertahanan sipil Suriah kemudian melakukan pencarian korban serta pemeriksaan kerusakan pada bangunan yang terkena serangan. Salah satu lokasi yang terdampak merupakan kawasan permukiman yang dihuni masyarakat sipil. Kerusakan bangunan dan jatuhnya korban jiwa membuat pemerintah Suriah menuntut penjelasan mengenai dasar pelaksanaan operasi serta langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.

The New Arab

+1

Menurut laporan otoritas kesehatan dan pertahanan sipil Suriah, tujuh warga sipil tewas akibat serangan tersebut, termasuk tiga anak dan seorang perempuan. Lima korban dilaporkan berasal dari satu keluarga yang rumahnya terkena serangan di kawasan Al-Tuff. Dua korban lainnya merupakan pria lanjut usia yang meninggal dalam serangan di wilayah Daraa dan Sweida. Selain korban meninggal, sedikitnya tiga orang mengalami luka-luka dan membutuhkan penanganan medis. Petugas penyelamat dikerahkan untuk memeriksa lokasi kejadian dan mencari kemungkinan korban di antara reruntuhan bangunan. Peristiwa tersebut menimbulkan kesedihan mendalam bagi keluarga korban sekaligus meningkatkan kekhawatiran masyarakat terhadap keselamatan penduduk di kawasan perbatasan.

The Washington Post

+1

Pemerintah Yordania menyatakan bahwa operasi militernya ditujukan untuk menghancurkan posisi kelompok teroris ISIS yang dinilai mengancam keamanan nasional. Serangan tersebut dikaitkan dengan penembakan terhadap para pelayat di sebuah gereja Ortodoks Yunani di wilayah Karak, Yordania, pada Jumat (23/10/2026). Peristiwa penembakan itu dilaporkan menewaskan sembilan orang dan melukai puluhan lainnya. Militer Yordania menyebut operasi di Suriah sebagai tindakan balasan terhadap kelompok yang diduga memiliki hubungan dengan pelaku serangan gereja. Pemerintah Amman juga menyatakan bahwa operasi didasarkan pada informasi intelijen mengenai ancaman serangan yang dianggap segera terjadi. Namun, hubungan antara seluruh lokasi yang menjadi sasaran serangan udara dan pelaku penembakan gereja masih menjadi bagian dari persoalan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Arab News

+1

Juru bicara Pemerintah Yordania, Mohammad al-Momani, menyatakan bahwa serangan udara tersebut menewaskan lebih dari 20 anggota ISIS dan menghancurkan sejumlah fasilitas kelompok tersebut. Menurutnya, operasi juga berhasil menghancurkan tempat penyimpanan persenjataan yang dianggap berpotensi digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Yordania. Pemerintah Amman menegaskan bahwa sasaran operasi adalah lokasi kelompok bersenjata, bukan masyarakat sipil. Meski demikian, Yordania mengakui adanya korban sipil dan menyampaikan penyesalan atas jatuhnya korban jiwa. Pernyataan mengenai jumlah anggota kelompok bersenjata yang tewas merupakan klaim pemerintah Yordania dan belum dapat dipastikan secara independen melalui laporan otoritas Suriah. Perbedaan informasi mengenai hasil operasi menjadi salah satu alasan pentingnya penyelidikan bersama untuk memastikan keadaan sebenarnya di lapangan.

The Washington Post

+1

Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Luar Negeri Suriah Asaad Hassan al-Shaibani dan Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon. Kedua pejabat sepakat membentuk komite keamanan bersama untuk menyelidiki keadaan yang menyebabkan serangan udara serta dampaknya terhadap masyarakat sipil. Komite tersebut juga akan membahas mekanisme pertukaran informasi intelijen dan peningkatan koordinasi keamanan di kawasan perbatasan. Safadi menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta menyatakan penyesalan mendalam atas kematian warga sipil. Ia kembali menegaskan bahwa Yordania menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah Suriah. Kesepakatan tersebut menjadi langkah diplomatik awal untuk mencegah perselisihan berkembang menjadi ketegangan yang lebih luas antara kedua negara.

Anadolu Agency

Persoalan koordinasi sebelum pelaksanaan operasi menjadi salah satu perbedaan utama dalam pernyataan kedua pemerintah. Suriah menyatakan bahwa pihaknya tidak menerima pemberitahuan atau melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan Yordania sebelum serangan dilancarkan. Damaskus menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan dan wilayah udaranya. Sementara itu, pihak Yordania menyampaikan bahwa operasi dilakukan untuk menghadapi ancaman keamanan yang dianggap mendesak. Perbedaan pandangan tersebut perlu diperjelas melalui komunikasi resmi dan pemeriksaan terhadap proses pengambilan keputusan militer. Pemerintah kedua negara juga menghadapi kebutuhan untuk menyeimbangkan upaya penanggulangan kelompok bersenjata dengan kewajiban melindungi keselamatan warga sipil.

detiknews

+1

Dampak serangan turut dirasakan pada aktivitas perlintasan perbatasan antara Suriah dan Yordania. Pemerintah Suriah sempat menutup pintu perbatasan Nasib pada Selasa (27/10/2026) dengan alasan keamanan setelah operasi udara berlangsung. Penutupan tersebut memengaruhi pergerakan penumpang dan kegiatan perdagangan yang menggunakan jalur perbatasan kedua negara. Kawasan Nasib merupakan salah satu titik penting bagi aktivitas transportasi darat dan distribusi barang di wilayah tersebut. Setelah pembicaraan diplomatik dilakukan, perlintasan dilaporkan kembali dibuka pada Rabu pagi dan aktivitas mulai berjalan normal. Perkembangan itu menunjukkan pentingnya menjaga komunikasi bilateral agar persoalan keamanan tidak menimbulkan gangguan berkepanjangan terhadap kegiatan ekonomi dan mobilitas masyarakat.

The New Arab

Protes diplomatik Suriah terhadap Yordania menjadi perkembangan penting dalam hubungan keamanan kedua negara setelah serangan udara yang menewaskan warga sipil pada 26 Oktober 2026. Pemerintah Damaskus menuntut penghormatan terhadap kedaulatan wilayahnya, sedangkan Amman mempertahankan alasan keamanan nasional dalam pelaksanaan operasi terhadap kelompok yang dianggap mengancam. Kedua negara kini menghadapi tugas untuk memastikan fakta mengenai sasaran serangan, jumlah korban, dan proses koordinasi sebelum operasi militer dilakukan. Pembentukan komite keamanan bersama diharapkan menjadi sarana untuk mengungkap keadaan sebenarnya sekaligus menyusun mekanisme pencegahan insiden serupa. Perlindungan masyarakat sipil tetap menjadi perhatian utama karena operasi militer di kawasan permukiman berpotensi menimbulkan dampak kemanusiaan yang serius. Kelanjutan pembicaraan diplomatik antara Damaskus dan Amman akan menentukan langkah penanganan insiden sekaligus upaya mempertahankan stabilitas keamanan di kawasan perbatasan kedua negara.

الوكالة العربية السورية للأنباء – سانا

+1