Serangan Udara Dinilai Gagal Lumpuhkan Houthi, Pakar Militer Desak Arab Saudi Pertimbangkan Operasi Darat di Yaman

Jakarta, 18 Oktober 2026 – Arab Saudi menghadapi tekanan untuk mengubah strategi militernya dalam menghadapi kelompok Houthi di Yaman setelah serangkaian serangan udara dinilai belum mampu menghentikan ancaman terhadap wilayah kerajaan. Sejumlah pengamat militer menilai penggunaan kekuatan udara saja tidak cukup untuk melemahkan kemampuan tempur kelompok yang didukung Iran tersebut. Mereka menyebut pengerahan pasukan darat atau penguatan operasi militer bersama kelompok sekutu di Yaman sebagai salah satu pilihan yang perlu dipertimbangkan. Namun, langkah tersebut juga dinilai memiliki risiko besar karena dapat memperluas konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Situasi ini menempatkan Riyadh pada pilihan sulit antara meningkatkan tekanan militer dan mencari penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Perdebatan mengenai efektivitas serangan udara kembali menguat setelah kelompok Houthi melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap sejumlah fasilitas penting di Arab Saudi. Serangan tersebut menyasar infrastruktur strategis, termasuk kawasan bandara dan fasilitas yang berkaitan dengan sektor energi. Meskipun memiliki sistem pertahanan udara modern, Arab Saudi masih menghadapi kesulitan dalam menangkal seluruh ancaman yang datang secara berulang. Kemampuan Houthi mempertahankan persenjataan dan melancarkan serangan jarak jauh menjadi perhatian serius bagi pemerintah kerajaan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa operasi militer sebelumnya belum berhasil menghilangkan kemampuan kelompok itu untuk menyerang sasaran strategis. Ancaman keamanan juga berpotensi memengaruhi kegiatan ekonomi dan stabilitas kawasan Teluk.

Pengamat keamanan Timur Tengah menilai bahwa operasi udara memiliki keterbatasan ketika menghadapi kelompok bersenjata yang menguasai wilayah luas dan memiliki jaringan pertahanan tersebar. Serangan udara dapat menghancurkan gudang senjata, kendaraan tempur, serta fasilitas peluncuran rudal, tetapi tidak secara otomatis mengakhiri penguasaan wilayah oleh kelompok bersenjata. Houthi diketahui memanfaatkan kondisi geografis Yaman yang bergunung-gunung untuk menyebarkan personel dan perlengkapan militernya. Karakteristik medan tersebut menyulitkan upaya mengidentifikasi seluruh sasaran penting melalui pengawasan udara. Selain itu, kemampuan kelompok tersebut untuk memperbaiki atau mengganti persenjataan membuat dampak serangan tidak selalu bertahan lama. Karena itulah, sejumlah analis menilai perubahan keseimbangan kekuatan di lapangan memerlukan kehadiran pasukan darat yang efektif.

Meski demikian, pengerahan pasukan darat Arab Saudi secara langsung ke Yaman bukan keputusan yang mudah. Operasi semacam itu membutuhkan kesiapan personel, dukungan logistik, penguasaan medan, serta kemampuan mempertahankan wilayah setelah berhasil direbut. Pengalaman konflik sebelumnya memperlihatkan bahwa pertempuran darat di Yaman dapat berlangsung panjang dan menguras sumber daya. Pasukan yang memasuki wilayah pegunungan juga berpotensi menghadapi serangan gerilya dan gangguan terhadap jalur pasokan. Risiko korban jiwa serta meningkatnya biaya operasi menjadi pertimbangan penting bagi pemerintah Saudi. Karena itu, sebagian pengamat memandang penggunaan pasukan sekutu lokal sebagai pilihan yang lebih mungkin dibandingkan pengerahan besar-besaran tentara kerajaan.

Arab Saudi sebelumnya dilaporkan mempertimbangkan operasi militer baru dengan melibatkan pasukan Yaman yang bersekutu dengan pemerintah yang diakui secara internasional. Rencana tersebut mencakup kemungkinan operasi di kawasan pesisir Laut Merah maupun tekanan militer melalui beberapa front. Dalam skenario tersebut, pasukan Yaman akan menjalankan operasi darat dengan dukungan serangan udara dan koordinasi dari Arab Saudi. Namun, efektivitas pendekatan ini masih menghadapi kendala karena kelompok-kelompok bersenjata yang menentang Houthi memiliki kepentingan politik berbeda. Perpecahan di antara pasukan sekutu dapat menghambat koordinasi dan memperlemah kemampuan mempertahankan wilayah. Keberhasilan operasi juga sangat bergantung pada kesiapan tempur serta kesatuan komando di lapangan.

Konflik Yaman semakin rumit karena melibatkan kepentingan sejumlah negara di Timur Tengah dan kekuatan internasional. Houthi telah menguasai ibu kota Sanaa sejak 2014, sementara Arab Saudi memimpin intervensi militer pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman. Sejak saat itu, berbagai operasi militer dan upaya perundingan belum menghasilkan penyelesaian politik yang menyeluruh. Dukungan Iran terhadap Houthi menjadi salah satu faktor yang memperbesar kekhawatiran Arab Saudi mengenai keamanan perbatasannya. Di sisi lain, keterlibatan berbagai kelompok bersenjata lokal membuat situasi politik Yaman semakin terfragmentasi. Kondisi tersebut menjadikan penyelesaian konflik tidak cukup hanya melalui perubahan strategi militer.

Perkembangan konflik juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan internasional di sekitar Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab. Kawasan tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran penting yang menghubungkan perdagangan Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Aktivitas militer Houthi di wilayah pesisir dapat mengganggu pergerakan kapal dagang dan meningkatkan biaya pengiriman barang. Ancaman terhadap jalur pelayaran juga berpotensi memberikan tekanan tambahan pada pasar energi internasional. Oleh karena itu, negara-negara yang memiliki kepentingan perdagangan di kawasan tersebut terus memperhatikan perkembangan keamanan Yaman. Eskalasi operasi darat dikhawatirkan dapat memperluas ketidakstabilan apabila tidak disertai langkah diplomatik yang efektif.

Di tengah munculnya usulan pengerahan pasukan darat, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa penyelesaian jangka panjang konflik Yaman tetap membutuhkan pendekatan politik. Operasi militer mungkin dapat mengubah posisi kekuatan di medan perang, tetapi belum tentu mampu menghilangkan akar perselisihan yang melibatkan berbagai kelompok di negara tersebut. Arab Saudi harus mempertimbangkan dampak keamanan, ekonomi, dan kemanusiaan sebelum mengambil keputusan mengenai perluasan operasi. Konflik yang berkepanjangan telah menimbulkan penderitaan besar bagi masyarakat sipil Yaman dan menghambat pemulihan ekonomi negara itu. Upaya gencatan senjata serta perundingan yang melibatkan pihak-pihak terkait dinilai tetap penting untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Hingga kini, gagasan pengerahan pasukan darat secara langsung masih menjadi bagian dari perdebatan strategis, bukan keputusan resmi yang telah diumumkan pemerintah Arab Saudi.