Nagoya, 3 Oktober 2026 – Perjalanan Sumaya menjadi salah satu kisah menarik dari kontingen Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Atlet berusia 21 tahun asal Kabupaten Bengkalis, Riau, itu berhasil mempersembahkan medali perak dari cabang teqball nomor tunggal putri. Prestasi tersebut terasa istimewa karena Sumaya sebelumnya merupakan atlet sepak takraw sebelum beralih menekuni teqball. Perak Sumaya sekaligus menjadi catatan bersejarah bagi Indonesia pada debut teqball di Asian Games.
Sumaya tumbuh dalam keluarga yang sangat dekat dengan sepak takraw di Pangkalan Nyirih, Bengkalis. Ayah dan ibunya merupakan mantan atlet sepak takraw, bahkan sang ibu pernah menjadi atlet nasional, sementara tiga saudara perempuannya juga menekuni olahraga yang sama. Lingkungan tersebut membuat Sumaya mengenal latihan dan kompetisi sejak usia muda. Namun, perjalanan kariernya kemudian mengambil arah berbeda setelah ia tidak terpilih memperkuat sepak takraw pada PON 2024.
Kegagalan masuk tim sepak takraw justru membuka kesempatan baru ketika Sumaya mendapat tawaran mencoba teqball. Adaptasinya berlangsung relatif cepat karena dirinya telah mempunyai dasar teknik sepak takraw yang kuat. Bahkan, Sumaya mengaku belum sampai satu bulan mempelajari teqball ketika mulai tampil pada PON 2024. Hasilnya langsung menjanjikan dengan keberhasilan meraih emas nomor ganda campuran dan perak tunggal putri pada PON Aceh-Sumut 2024.
Karier Sumaya kemudian terus berkembang. Pada 2025, ia meraih perunggu SEA Games di nomor ganda campuran, perunggu Teqball World Tour Bangkok pada ganda putri, serta dua perak pada kejuaraan nasional. Menjelang Asian Games 2026, Sumaya semakin menunjukkan kematangannya dengan merebut dua medali emas Kejurnas Teqball 2026 pada nomor tunggal putri dan ganda putri. Rangkaian hasil tersebut akhirnya membawanya masuk skuad Indonesia untuk Asian Games Aichi-Nagoya.
Di Asian Games, Sumaya melangkah hingga final tunggal putri setelah melewati serangkaian pertandingan. Pada laga perebutan emas di Nagoya City Higashi Sports Center, 20 September 2026, ia menghadapi atlet Myanmar Wai Khin Hnin. Sumaya memenangi set pertama 12-10, tetapi lawannya bangkit dan merebut dua set berikutnya dengan skor 12-8 dan 12-9. Kekalahan 1-2 membuat Sumaya harus puas dengan medali perak, tetapi hasil tersebut tetap menjadi pencapaian terbesar dalam karier internasionalnya sejauh ini.
Di balik kesibukannya sebagai atlet, Sumaya juga menjalani pendidikan tinggi melalui Universitas Terbuka. Ia tercatat sebagai mahasiswa program S1 Administrasi Publik di UT Pekanbaru sehingga harus membagi waktu antara perkuliahan dan latihan. Dukungan keluarga tetap menjadi bagian penting dalam perjalanannya, termasuk ketika menjalani pertandingan di Jepang. Sumaya secara rutin berkomunikasi dengan orang tuanya selama menjalani latihan dan pertandingan, sementara keberhasilannya memastikan medali Asian Games disambut haru oleh keluarga di kampung halaman.
Perjalanan Sumaya memperlihatkan bagaimana kegagalan di satu cabang olahraga justru membawanya menuju kesempatan baru. Dari tidak terpilih di sepak takraw, ia beradaptasi dengan teqball hingga mampu mencapai final Asian Games hanya dalam beberapa tahun. Sumaya pun menegaskan medali perak tersebut menjadi motivasi untuk berlatih lebih keras dan memperbaiki kekurangan pada turnamen berikutnya. Dengan usia yang masih 21 tahun, pencapaiannya di Aichi-Nagoya menjadi awal penting bagi perjalanan Sumaya sekaligus perkembangan teqball Indonesia di kompetisi internasional.