Jakarta, 21 September 2026 – Ukraina melancarkan serangan drone besar-besaran ke wilayah Rusia bertepatan dengan hari terakhir pemungutan suara pemilu parlemen pada Minggu, 20 September 2026. Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin menyatakan lebih dari 1.600 drone telah dicegat di berbagai wilayah sejak Sabtu, termasuk sekitar 450 unit yang disebut bergerak menuju Moskow. Sementara Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan 1.110 drone dihancurkan dalam gelombang serangan semalam, sehingga terdapat perbedaan periode dan cakupan penghitungan dalam angka yang diumumkan otoritas Rusia. Serangan tersebut disebut sebagai yang terbesar terhadap Moskow sejak perang Rusia-Ukraina berlangsung dalam skala penuh pada 2022. Sejumlah drone dilaporkan berhasil melewati pertahanan dan mencapai sasaran di sekitar ibu kota. Kilang minyak serta bangunan permukiman termasuk fasilitas yang terdampak dalam serangan tersebut.
Serangan berlangsung ketika Rusia memasuki hari ketiga sekaligus terakhir pemilu parlemen. Lebih dari 111 juta pemilih tercatat memiliki hak suara untuk menentukan seluruh 450 anggota Duma Negara, dengan 225 kursi diperebutkan melalui daftar partai dan 225 lainnya melalui daerah pemilihan anggota tunggal. Pemungutan suara juga berlangsung di tingkat regional dan lokal serta di wilayah Ukraina yang diduduki dan diklaim Rusia, yang status aneksasinya tidak diakui Ukraina dan sebagian besar komunitas internasional. Ukraina mengecam penyelenggaraan pemilu di wilayah pendudukan tersebut. Di tengah berlangsungnya pemungutan suara, serangan udara kemudian menjadi salah satu eskalasi terbesar yang pernah dialami wilayah Moskow. Situasi keamanan membuat perang kembali menjadi latar utama proses politik domestik Rusia.
Sobyanin menuding serangan tersebut dirancang untuk mengganggu pelaksanaan pemilu, tetapi klaim mengenai tujuan itu merupakan penilaian pihak Rusia dan belum diverifikasi secara independen. Tidak ada laporan bahwa tempat pemungutan suara di Moskow menjadi sasaran langsung dalam gelombang serangan tersebut. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, ketika mengomentari operasi jarak jauh negaranya, menyoroti serangan terhadap fasilitas minyak dan logistik Rusia yang menurutnya mendukung kemampuan Moskow membiayai perang. Pernyataan Zelenskyy tidak menyebut pemilu sebagai sasaran operasi. Perbedaan pernyataan tersebut memperlihatkan dua narasi mengenai tujuan serangan, dengan Rusia mengaitkannya pada proses pemungutan suara dan Ukraina menekankan sasaran ekonomi serta infrastruktur yang berkaitan dengan perang.
Salah satu sasaran utama yang terdampak adalah Kilang Minyak Moskow di kawasan Kapotnya. Fasilitas tersebut termasuk salah satu kilang besar Rusia dan sebelumnya juga pernah menjadi sasaran serangan Ukraina. Otoritas Moskow mengakui sejumlah drone berhasil mencapai kawasan kilang dan menyebabkan kerusakan pada fasilitasnya. Asap tebal terlihat membubung dari lokasi setelah rangkaian ledakan terdengar di ibu kota. Data terakhir yang tersedia menunjukkan kilang tersebut memproses sekitar 11,6 juta ton minyak pada 2024, termasuk menghasilkan sekitar 2,9 juta ton bensin dan 3,2 juta ton diesel. Serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak menjadi bagian dari strategi Ukraina yang selama beberapa bulan terakhir berupaya menekan kemampuan energi dan logistik Rusia.
Dampak serangan juga mencapai kawasan permukiman dan menimbulkan korban jiwa. Otoritas wilayah Moskow kemudian menyatakan sedikitnya tiga orang meninggal setelah salah satu korban yang sebelumnya terluka meninggal dunia di rumah sakit. Sejumlah orang lainnya mengalami luka-luka, sementara bangunan dan kendaraan mengalami kerusakan. Di Distrik Ramenskoye, sekitar 400 penghuni, termasuk puluhan anak-anak, dievakuasi dari sebuah gedung apartemen 21 lantai setelah insiden memicu kebakaran. Sebuah bangunan tempat tinggal di Sofyino juga mengalami kerusakan serius. Jumlah korban dan tingkat kerusakan masih dapat berubah seiring berlanjutnya pemeriksaan di berbagai lokasi terdampak.
Skala serangan kali ini jauh melampaui banyak operasi drone sebelumnya terhadap ibu kota Rusia. Menurut Sobyanin, sekitar 450 drone dari jumlah yang dilaporkan sejak Sabtu diarahkan menuju Moskow. Angka lebih dari 1.600 yang disebut pemerintah kota merujuk pada jumlah drone yang diklaim telah ditembak jatuh Rusia sejak Sabtu dalam cakupan lebih luas, bukan semata-mata drone yang semuanya mencapai Moskow. Kementerian Pertahanan Rusia secara terpisah menyatakan sistem pertahanannya menghancurkan 1.110 drone dalam periode semalam. Karena perang masih berlangsung dan informasi berasal dari pihak yang terlibat langsung dalam konflik, angka keseluruhan serangan maupun jumlah drone yang berhasil dihancurkan sulit diverifikasi secara independen. Meski demikian, berbagai laporan menunjukkan operasi tersebut merupakan salah satu gelombang serangan udara Ukraina terbesar terhadap wilayah Rusia sepanjang perang.
Rusia menyatakan akan memberikan respons terhadap serangan tersebut. Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pasukannya akan melanjutkan dan meningkatkan serangan berpresisi terhadap sasaran militer di Kyiv sebagai tanggapan atas apa yang disebut Moskow sebagai serangan terhadap target sipil di wilayah Rusia. Ukraina dan Rusia selama perang saling menuduh melakukan serangan yang menyebabkan korban sipil, sementara kedua pihak menyatakan tidak secara sengaja menargetkan warga sipil. Pada saat bersamaan, serangan Rusia terhadap Ukraina juga terus berlangsung. Otoritas Ukraina melaporkan serangan Rusia menewaskan warga sipil di wilayah Kyiv, termasuk anak-anak, ketika gelombang serangan terhadap Rusia berlangsung. Pertukaran serangan tersebut menunjukkan belum adanya tanda penurunan intensitas konflik secara menyeluruh.
Serangan terhadap sektor energi Rusia memiliki dimensi ekonomi yang semakin penting dalam strategi perang Ukraina. Kyiv berulang kali menyatakan fasilitas minyak dan logistik Rusia merupakan sasaran yang berkaitan dengan kemampuan Moskow mempertahankan operasi militernya. Serangkaian serangan sebelumnya telah mengganggu sebagian kapasitas pengolahan minyak Rusia dan ikut menimbulkan tekanan terhadap pasokan produk bahan bakar di sejumlah wilayah. Rusia, di sisi lain, terus melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi dan fasilitas lainnya di Ukraina. Pola saling menyerang infrastruktur tersebut membuat sektor energi menjadi salah satu medan penting di luar garis depan pertempuran darat. Serangan terhadap Kilang Minyak Moskow kembali memperlihatkan kemampuan Ukraina membawa operasi jarak jauh hingga kawasan yang berada jauh dari garis depan.
Gelombang lebih dari 1.600 drone yang diklaim telah dicegat Rusia sejak Sabtu pada akhirnya menandai eskalasi baru ketika pemilu parlemen berlangsung di tengah perang yang belum berakhir. Moskow mengaitkan serangan dengan upaya mengganggu pemungutan suara, sementara pernyataan Ukraina menekankan dampak serangan terhadap fasilitas minyak dan logistik yang menopang kemampuan perang Rusia. Besarnya jumlah drone yang terlibat, kerusakan kilang minyak, korban di kawasan permukiman, serta kemampuan serangan mencapai ibu kota membuat operasi tersebut mendapat perhatian luas. Rusia telah menyatakan akan meningkatkan serangan balasan, sehingga risiko eskalasi lanjutan tetap tinggi setelah pemilu berakhir. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada respons militer kedua negara sekaligus upaya diplomatik yang hingga kini belum menghasilkan penghentian perang secara menyeluruh.