Jakarta, 3 September 2026 – Ketua DPD RI Sultan B Najamudin memberikan wejangan mengenai kepemimpinan kepada mahasiswa dengan menekankan pentingnya integritas, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kemampuan memahami kebutuhan masyarakat. Generasi muda dinilai memiliki posisi strategis karena akan menjadi kelompok yang menentukan arah pembangunan Indonesia pada masa mendatang. Menurut Sultan, kepemimpinan tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan atau kekuasaan, melainkan kemampuan memberikan pengaruh positif dan menghadirkan solusi terhadap persoalan di lingkungan sekitar. Mahasiswa memiliki kesempatan besar untuk mulai melatih kemampuan tersebut melalui aktivitas akademik, organisasi, pengabdian masyarakat, maupun kegiatan sosial. Pengalaman selama berada di perguruan tinggi dapat menjadi ruang pembelajaran sebelum mereka memasuki dunia profesional dan memperoleh tanggung jawab yang lebih besar. Karena itu, mahasiswa didorong tidak hanya mengejar pencapaian akademik, tetapi juga membangun karakter yang kuat dan kemampuan bekerja bersama orang lain. Pemimpin masa depan diharapkan lahir dari generasi yang memiliki pengetahuan sekaligus kesadaran mengenai tanggung jawab terhadap masyarakat.
Sultan menilai salah satu karakter utama seorang pemimpin adalah kemampuan menjaga integritas dalam berbagai situasi. Pengetahuan dan kecerdasan yang tinggi tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak dibarengi kejujuran serta komitmen terhadap nilai yang diyakini. Integritas menjadi semakin penting ketika seseorang memperoleh kewenangan karena keputusan yang diambil dapat berdampak terhadap banyak orang. Mahasiswa karena itu perlu membangun kebiasaan bertanggung jawab sejak masih berada di lingkungan kampus. Sikap tersebut dapat dimulai dari hal sederhana seperti menjalankan tugas secara jujur, menghargai perbedaan pendapat, memenuhi komitmen, dan berani mengakui kesalahan. Kebiasaan yang dibangun sejak muda akan memengaruhi cara seseorang menjalankan tanggung jawab ketika nantinya berada dalam posisi kepemimpinan. Sultan mengingatkan bahwa masyarakat membutuhkan pemimpin yang dapat dipercaya dan tidak mudah meninggalkan prinsip ketika menghadapi tekanan. Kepercayaan tersebut tidak dapat diperoleh secara instan, tetapi dibangun melalui konsistensi antara ucapan dan tindakan.
Kepemimpinan juga membutuhkan kemampuan mendengarkan dan memahami persoalan sebelum mengambil keputusan. Sultan mendorong mahasiswa tidak melihat pemimpin hanya sebagai orang yang memberikan perintah kepada kelompok yang dipimpinnya. Pemimpin harus mampu membuka ruang komunikasi sehingga berbagai pandangan dapat dipertimbangkan sebelum menentukan sebuah pilihan. Dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, keputusan sering kali menyangkut kepentingan kelompok dengan kebutuhan dan latar belakang berbeda. Kemampuan mendengarkan membantu seorang pemimpin memahami dampak kebijakan dari berbagai sudut pandang dan mengurangi risiko keputusan yang hanya menguntungkan sebagian pihak. Mahasiswa dapat melatih kemampuan tersebut melalui diskusi di kelas, organisasi kampus, maupun interaksi dengan masyarakat. Perbedaan pendapat seharusnya tidak selalu dipandang sebagai konflik karena dapat menjadi sumber gagasan apabila dikelola secara dewasa. Budaya dialog menjadi bagian penting dalam melahirkan pemimpin yang terbuka terhadap kritik sekaligus mampu menjelaskan alasan di balik keputusan yang diambil.
Ketua DPD RI juga mengingatkan mahasiswa mengenai perubahan dunia yang berlangsung semakin cepat akibat perkembangan teknologi. Kemunculan kecerdasan buatan, otomatisasi, digitalisasi ekonomi, dan perubahan pola kerja menuntut calon pemimpin memiliki kemampuan beradaptasi. Generasi muda tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh ketika menempuh pendidikan karena keterampilan yang dibutuhkan dapat terus berubah. Kebiasaan belajar sepanjang hayat menjadi penting agar seseorang mampu mengikuti perkembangan dan memahami persoalan baru yang muncul. Namun, penguasaan teknologi tetap harus berjalan bersama kemampuan berpikir kritis agar mahasiswa tidak sekadar menjadi pengguna berbagai perangkat digital. Mereka perlu mampu menilai informasi, memahami risiko, serta menggunakan teknologi untuk menciptakan solusi terhadap persoalan masyarakat. Kemampuan tersebut akan semakin dibutuhkan ketika generasi muda nantinya mengambil keputusan dalam pemerintahan, bisnis, pendidikan, maupun berbagai sektor lainnya. Pemimpin yang adaptif dapat memanfaatkan perubahan sebagai kesempatan tanpa mengabaikan risiko yang menyertainya.
Momentum bonus demografi turut menjadi perhatian karena Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar. Kondisi tersebut dapat menjadi kekuatan pembangunan apabila generasi muda memiliki pendidikan, keterampilan, kesehatan, dan karakter yang memadai. Mahasiswa merupakan bagian dari kelompok yang nantinya akan mengisi berbagai posisi strategis ketika Indonesia bergerak menuju visi Indonesia Emas 2045. Mereka akan bekerja dalam kondisi persaingan yang semakin terbuka sehingga kemampuan profesional harus terus ditingkatkan. Namun, Sultan menilai kemajuan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan individu yang unggul secara pribadi. Generasi muda juga harus memiliki kesadaran bahwa kemampuan yang mereka peroleh perlu memberikan manfaat kepada masyarakat. Kepemimpinan dibutuhkan untuk menghubungkan kemampuan individu dengan tujuan yang lebih besar sehingga pembangunan dapat dirasakan secara luas. Apabila bonus demografi tidak dipersiapkan dengan baik, jumlah penduduk produktif yang besar justru dapat menimbulkan persoalan ketika kesempatan kerja dan kualitas sumber daya manusia tidak berkembang secara seimbang.
Sultan turut mendorong mahasiswa memiliki keberanian menyampaikan gagasan dan terlibat dalam pembahasan berbagai persoalan bangsa. Kampus selama ini menjadi salah satu ruang penting bagi perkembangan pemikiran karena mahasiswa memiliki kesempatan mempelajari persoalan dengan pendekatan akademik. Kritik terhadap kebijakan maupun kondisi sosial dapat memberikan kontribusi apabila disampaikan berdasarkan data, argumentasi, dan tujuan memperbaiki keadaan. Mahasiswa tidak perlu kehilangan sikap kritis ketika berinteraksi dengan pemerintah maupun institusi negara. Namun, kebebasan menyampaikan pandangan juga harus dibarengi tanggung jawab untuk memastikan informasi yang digunakan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Perkembangan media sosial membuat sebuah informasi dapat menyebar dalam waktu singkat sehingga kesalahan maupun informasi yang tidak lengkap dapat menghasilkan dampak luas. Kemampuan melakukan verifikasi dan melihat persoalan dari beberapa perspektif menjadi semakin penting bagi calon pemimpin. Sikap kritis yang konstruktif dapat membantu menjaga kualitas kehidupan demokrasi sekaligus mendorong pemerintah bekerja lebih baik.
Kepemimpinan generasi muda juga perlu dibangun dengan kemampuan menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia. Perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, maupun latar belakang sosial merupakan kenyataan yang harus dikelola sebagai kekuatan bersama. Seorang pemimpin tidak dapat hanya memperhatikan kelompok yang memiliki pandangan sama dengannya karena tanggung jawab kepemimpinan mencakup masyarakat yang beragam. Mahasiswa memiliki kesempatan melatih kemampuan tersebut karena lingkungan perguruan tinggi mempertemukan orang dari berbagai daerah dan latar belakang. Interaksi sehari-hari dapat mengajarkan bagaimana bekerja sama tanpa harus menghilangkan perbedaan pandangan. Kemampuan membangun kompromi dan mencari titik temu akan sangat berguna ketika seseorang nantinya menghadapi persoalan publik yang lebih kompleks. Sultan mendorong generasi muda menghindari sikap yang memperuncing perpecahan hanya demi memperoleh keuntungan sesaat. Persatuan menjadi modal penting karena pembangunan membutuhkan kerja bersama dalam jangka panjang dan tidak dapat diselesaikan oleh satu kelompok saja.
Dalam konteks pembangunan daerah, keberadaan DPD RI juga berkaitan dengan upaya memastikan aspirasi masyarakat dari berbagai wilayah memperoleh ruang dalam pembentukan kebijakan nasional. Sultan mengingatkan mahasiswa bahwa Indonesia tidak hanya terdiri dari pusat-pusat ekonomi besar, tetapi juga ribuan daerah dengan karakter dan kebutuhan berbeda. Calon pemimpin harus memahami persoalan masyarakat di luar lingkungan tempat mereka tinggal agar kebijakan tidak terlalu berorientasi pada satu wilayah. Kesenjangan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, konektivitas, dan kesempatan ekonomi masih menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian bersama. Mahasiswa dapat memperluas pemahaman melalui penelitian, pengabdian masyarakat, kegiatan lapangan, maupun interaksi dengan komunitas di berbagai daerah. Pengalaman tersebut membantu mereka melihat secara langsung perbedaan antara konsep yang dipelajari di ruang kuliah dan kondisi nyata masyarakat. Pemimpin yang memahami kondisi lapangan akan memiliki dasar lebih kuat ketika menentukan prioritas pembangunan. Perspektif daerah juga penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada wilayah tertentu.
Sultan turut menempatkan kemampuan berkolaborasi sebagai salah satu karakter penting bagi calon pemimpin. Persoalan besar seperti kemiskinan, ketahanan pangan, perubahan iklim, pendidikan, kesehatan, dan penciptaan lapangan pekerjaan tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah seorang diri. Dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat sipil, komunitas, dan generasi muda memiliki kemampuan berbeda yang dapat digabungkan untuk menghasilkan solusi. Pemimpin memiliki tugas membangun komunikasi di antara berbagai pihak tersebut dan memastikan kolaborasi memiliki tujuan yang jelas. Mahasiswa dapat mulai mempelajari pola kerja tersebut melalui proyek kelompok maupun kegiatan organisasi yang membutuhkan pembagian tanggung jawab. Mereka juga perlu memahami bahwa keberhasilan sebuah tim tidak selalu bergantung kepada satu orang yang paling menonjol. Kemampuan memberikan ruang kepada orang lain dan mengoptimalkan keahlian setiap anggota justru menjadi bagian dari kepemimpinan. Budaya kolaborasi akan semakin dibutuhkan karena tantangan masa depan memiliki keterkaitan antara satu sektor dan sektor lainnya.
Perguruan tinggi pada akhirnya memiliki peran besar dalam membentuk calon pemimpin melalui pendidikan akademik sekaligus pengalaman di luar ruang kelas. Kampus diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja, tetapi juga individu yang memiliki kemampuan berpikir mandiri dan memahami tanggung jawab sosial. Organisasi mahasiswa, penelitian, kegiatan kewirausahaan, kompetisi, serta pengabdian masyarakat dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan memimpin secara langsung. Kegagalan dalam proses tersebut tidak selalu harus dipandang negatif karena dapat memberikan pengalaman mengenai cara memperbaiki keputusan. Mahasiswa perlu mendapatkan kesempatan mencoba, mengambil tanggung jawab, dan mengevaluasi hasil pekerjaannya sendiri. Dosen dan lingkungan kampus dapat memberikan pendampingan agar pengalaman tersebut menghasilkan pembelajaran yang lebih matang. Kombinasi pengetahuan akademik dan pengalaman praktis akan membantu mahasiswa memahami bahwa kepemimpinan membutuhkan proses panjang. Karakter seorang pemimpin terbentuk melalui berbagai keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten sebelum memperoleh tanggung jawab besar.
Wejangan Ketua DPD RI kepada mahasiswa menegaskan bahwa masa depan kepemimpinan Indonesia sangat bergantung pada kualitas generasi yang sedang menempuh pendidikan saat ini. Sultan B Najamudin mendorong mahasiswa membangun integritas, kemampuan berpikir kritis, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat. Perkembangan teknologi dan bonus demografi memberikan kesempatan besar, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan yang membutuhkan pemimpin adaptif dan memiliki karakter kuat. Mahasiswa juga diminta menjaga persatuan serta tidak kehilangan kemampuan berdialog ketika menghadapi perbedaan pandangan. Kepemimpinan menurutnya harus dipahami sebagai tanggung jawab untuk memberikan manfaat, bukan sekadar jalan memperoleh posisi maupun kekuasaan. Pengalaman selama berada di kampus dapat digunakan sebagai tempat berlatih sebelum generasi muda memasuki ruang pengabdian yang lebih luas. Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu menggabungkan pengetahuan, integritas, keberanian, dan kemampuan berkolaborasi dalam menghadapi berbagai perubahan. Dari lingkungan perguruan tinggi itulah diharapkan muncul generasi pemimpin yang mampu membawa pembangunan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat dan masa depan bangsa.